Demokratisasi di Indonesia tengah mengalami defisit karena telah menjadi instrumen para oligarki untuk mengukuhkan kekuasaan dan mengakumulasi kapital (Hadiz dan Robison 2004; Winters 2014). Hal ini terjadi karena kontestasi elektoral hanya sebtas instrumen untuk mengukuhkan persenyawaan antara kepentingan penguasa politik dan penguasa ekonomi. Terputusnya tali mandat dan mandegnya penyaluran aspirasi dan kepentingan kelompok warga terorganisir dipandang berkontribusi pada defisit demokrasi (Törnquist dan Stokke 2009). Akan tetapi, studi kasus dari tiga daerah memberi ilustrasi bahwa pola hubungan representasi politik yang genuine dapat terbentuk dan berbeda dari pola hubungan klientelistik maupun relasi yang dianggap imaginer. Perubahan struktur politik (opportunity structures) membuka ruang partisipasi dan interaksi warga yang memungkinkan terjadinya dialog gagasan secara programatik sehingga dapat menjadi embrio perubahan transformatif (transformative democracy).

Author: Luky Djani
Publisher: Institute for Strategic Initiatives
Year: 2017
Language: Bahasa Indonesia
Format: PDF

Representasi Politik: Relasi Imaginer Konstituen dan Politikus?

Pin It on Pinterest