Studi ini menelaah lebih dalam relasi dan interaksi yang dibangun oleh kedua calon legislatif hingga terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] Kab. Bekasi, Nyumarno dan Nurdin, dengan konstitueennya terutama dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia [FSPMI] Kab. Bekasi pada fase pra elektoral, elektoral, hingga paska elektoral. Lebih dari itu, studi ini pula berupaya untuk mengabstraksikan model repsresentasi yang terbangun antara kedua anggota DPRD tersebut dengan konstitueenya terutama dengan FSPMI Kab. Bekasi paska elektoral. Apakah model representasi yang terbangun merupakan representasi simbolik, deskriptif, atau bahkan substantif?  Studi ini penting diteliti karena berdasarkan argumentasi bahwa situasi politik di berbagai belahan negara terutama di negara berkembang mengalami defisit demokrasi. Defisit demokrasi ini terjadi karena keterputusan tali mandat antara calon yang dipilih dan terpilih. Keterputusan ini bukan disebabkan oleh tidak adanya kebebasan sipil dan politik, namun ditengarai karena terjadi disfungsi instrumen kontrol publik dalam mengendalikan persoalan kekuasaan terkait kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Temuan studi ini menggambarkan bahwa kedua anggota DPRD, Nyumarno dan Nurdin, memiliki perbedaan dalam membangun relasi dan interaksi dengan konstitueennya terutama buruh FSPMI Kab. Bekasi pada fase paska elektoral. Adapun relasi dan interaksi yang terbangun antara Nyumarno dan konsitueennya relatif mengarah pada model representasi substantif. Sementara itu, model representasi yang terbangun antara Nurdin dengan konstitueenya cenderung mengarah pada model representasi deskriptif.

Author: Mohammad Didit Saleh
Publisher: Jurnal Analisis CSIS
Year: 2017
Language: Bahasa Indonesia
Format: PDF

Gerakan Buruh dan Eksperimentasi Politik: Studi Kasus Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Kabupaten Bekasi

Pin It on Pinterest